c

Dampak Kurang Olahraga Bagi Otak

Dampak kurang olahraga-Kapan terakhir kali Anda berolahraga? Sangat penting untuk memastikan tubuh banyak bergerak. Olahraga bukan melulu demi menurunkan berat badan, sistem imun lebih baik atau agar tubuh lebih bugar.
Namun di balik itu, olahraga sebenarnya juga memiliki peran penting terhadap kesehatan otak. Mulai sekarang, perbaiki lagi jadwal olahraga Anda agar tidak terjadi hal-hal tidak di inginkan pada otak.

Dampak Kurang Olahraga Bagi Otak

Dampak kurang olahraga

Berikut dampak kurang olahraga bagi otak.

1. Susah fokus

Jika Anda merasa sudah sarapan, tidur cukup, tetapi otak agak susah di ajak konsentrasi, bisa jadi Anda kurang olahraga. Sebagaimana di lansir Men’s Health, tinjauan yang di terbitkan di British Medical Journal menyimpulkan olahraga singkat 10-40 menit mampu meningkatkan konsentrasi secara langsung.

Bayangkan jika ini di jadikan kebiasaan atau di lakukan secara teratur. Olahraga akan meningkatkan aliran darah ke otak. Ini mungkin berhubungan dengan tingkat komponen hormon lebih tinggi pada darah seperti endorfin dan hormon tertentu yang membuat otak tetap waspada.

2. Dominasi pemikiran negatif

Selalu ada hikmah dalam setiap situasi. Namun belakangan Anda terus-terusan melihat skenario terburuk sehingga jatuh pada pemikiran negatif. Kenapa? Bisa jadi Anda kurang olahraga.

Menurut psikolog Yvonne Thomas, olahraga membantu menghilangkan kelebihan emosi negatif dan menyediakan jalan keluar. Anda bisa memilih olahraga apapun misalnya, latihan kardio, gerakan-gerakan ringan sampai intens, dan jalan kaki.

“Seseorang dapat benar-benar melatih beberapa emosi dengan bernapas lebih dalam dan dengan aktif menyalurkan kembali emosi melalui gerakan tubuh. Ini bisa memicu endorfin yang bisa menenangkan dan membuat rileks,” jelas Thomas, seperti dikutip¬†Real Simple.

3. Susah memecahkan masalah

Kurang olahraga bisa membuat Anda sulit memikirkan solusi untuk berbagai masalah. Anda bakal lebih sering merasa ‘mentok’ dan frustasi karena susah mencari jalan keluar.

“Aktivitas fisik meningkatkan fungsi kognitif lewat neuroplasticity seperti meningkatkan sintesis dan ekspresi neuropeptida dan hormon. Substansi ini membantu neuroplasticity dan perbaikan saraf,” jelas Nadelman.

4. Kemampuan belajar dan mengingat turun

Peneliti University of Maryland memindai otak atlet yang sudah berumur dan menemukan aliran darah ke otak terutama hipokampus turun secara signifikan setelah 10 hari hiatus latihan. Hipokampus merupakan bagian otak yang terlibat dalam pembelajaran dan memori.

Devi Nampiaparampil, dokter manajemen nyeri di NYU Langone Medical Center, menyebut kemungkinan penurunan aliran darah membuat orang lebih sulit belajar atau mengambangkan memori baru.

5. Risiko depresi

Selama pandemi, sebagian orang mengalami peningkatan rasa takut. Sebagian kasus bisa jadi akibat periode tubuh yang tidak aktif dan berlangsung lama. Katy Firsin, ahli naturopati, menjelaskan saat berolahraga tubuh melepaskan zat kimia yang membuat nyaman seperti, anandamide dan endocannabinoids ke otak.

Senyawa-senyawa ini tidak hanya menghalangi reseptor rasa sakit tetapi juga meningkatkan perasaan gembira. Kalau tubuh kekurangan zat-zat kimia ini, orang cenderung cemas dan depresi.